Banyak orang yang menjadikan puncak Gunung Everest sebagai pencapaian yang harus dilakukan minimal sekali seumur hidup. Pasalnya, untuk untuk bisa menaklukan tempat tertinggi di bumi ini tidak hanya bermodalkan uang miliaran rupiah, tetapi tekad dan mental yang kuat juga fisik yang prima untuk bisa mencapainya.

Namun, bayangkan ada orang yang telah mencapai gunung yang dalam bahasa Tibet bernama Chomolangma itu lebih dari sekali, bahkan puluhan kali. Dan sosok tersebut adalah Kami Rita, seorang sherpa atau orang yang berprofesi sebagai pemandu pendakian gunung. Ia telah berhasil mencapai puncak Everest sebanyak 24 kali, bahkan ia pernah mencapai puncak sebanyak dua kali dalam kurun waktu kurang dari seminggu.

Rita sendiri yang kini berusia 50 tahun tersebut mengaku belum mau pensiun dari pekerjaannya yang masuk dalam daftar pekerjaan paling berbahaya di muka bumi ini.

’’Saya sehat. Saya bisa terus melakukannya hingga berusia 60 tahun. Selama ada oksigen, tidak ada masalah,’’ ujar Rita sebagaimana dikutip AFP.

Pria yang berasal dari Suku Sherpa—yang mayoritas bekerja sebagai pemandu pendakian gunung—itu mengaku bahwa ia sendiri tak tahu sebelumnya bahwa kesuksesan dirinya dalam pendakiannya bisa dibukukan sebagai sebuah rekok. Seandainya tahu sejak masih muda, dia mungkin akan lebih sering mendaki agar bisa memecahkan rekor di usia muda.

’’Saya tidak mendaki untuk memecahkan rekor. Saya hanya bekerja,’’ terangnya.

Rita sendiri pertama kali mencapai puncak Everest pada tahun 1994. Sejak saat itu, hampir setiap tahun, ia tidak pernah putus untuk menuju ke sana bila cuaca memungkinkan.

Tidak hanya Everest, Rita juga telah berhasil menaklukan lima puncak gunung yang punya ketinggian di atas 8 ribu meter si atas permukaan laut, termasuk di antaranya  K2 yang merupakan gunung tertinggi kedua di dunia and Cho Oyu—gunung tertinggi ke enam di dunia.

Keluarga Pendaki

Rita, yang tumbuh di sebuah desa kecil, Thame di distrik Solukhumbu—yang menjadi rumah bagi Suku Sherpa—lahir dari keluarga yang memang sudah mengabdikan diri untuk membantu banyak orang dalam menaklukan tingginya Everest.

Ayahnya, menjadi salah satu pemandu Sherpa profesional pertama setelah Everest dibuka untuk pendaki asing pada tahun 1950. Dan kakaknya, Lakpa Rita juga tercatat telah memuncaki Everest sebanyak 17 kali.

Kehebatan keluarga Rita sendiri diakui oleh Andrew Murray, seorang ahli fisiologi di University of Cambridge di Inggris. Menurut penelitiannya pada tahun 2017 lalu menyatakan bahwa Suku Sherpa telah mengembahkan gen yang membantu mereka untuk mengatasi penyakit ketinggian dan masalah yang mengancam jiwa seperti High Altitude Pulmonary atau Cerebral Edema yang mana Suku Sherpa jarang sekali mengalami hal tersebut.

Suku Sherpa sendiri telah tinggal di dataran tinggi Himalaya sejak 6000 tahun yang lalu, sehingga mereka telah beradaptasi dengan lingkungan dan suhu extreme, terutama ketika mengalami kekurangan oksigen.

“Anda tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama di bagian dunia itu untuk mengetahui bahwa orang-orang yang tinggal di sana, terutama Sherpa, berkinerja sangat baik di ketinggian – jauh lebih baik daripada kita. “Pasti ada sesuatu yang sangat luar biasa tentang kemampuan mereka,” ungkap Andrew.

Tulang Punggung Nepal

Tak dapat dipungkiri bahwa sektor pariwisata merupakan industri utama Negara yang berbatasan dengan Cina tersebut. Bahkan di tahun 2020 kali ini, Kementerian Pariwisata Nepal menargetkan 1,5 juta wisatawan pada 2020 lewat kampanye Visit Nepal 2020. Diharapkan pertumbuhan pariwisata Nepal bisa mencapai 30 persen setiap tahun.

“Cina dan India adalah dua pasar sumber terbesar untuk Nepal, namun masih ada ruang lingkup yang lebih besar lagi. Jadi, fokus utama kegiatan promosi kami adalag Cina dan India untuk Visit Nepal Year,” ujar Sekretaris Kementerian Kebudayaan, Pariwisata, dan Penerbangan Sipil Nepal Krishna Prasad Devkota dilansir Xinhua, Jumat (30/3/2019).

Tentunya, wacana pemerintah Nepal tak akan mungkin bisa berhasil tanpa bantuan para sherpa, Rita sendiri mengaku bahwa perannya sebagai tulang punggung untuk industri pariwisata di Nepal sangat vital meski kerap  dipandang sebelah mata.

“Sherpa memperbaiki tali sampai ke puncak. Jadi, para Sherpa mencari jalan untuk memperbaiki tali dan orang-orang asing memberikan wawancara dengan mengatakan bahwa Everest lebih mudah, atau berbicara tentang keberanian mereka, ”kata Kami Rita kepada BBC.

“Tapi mereka melupakan kontribusi Sherpa. Sherpa telah banyak berjuang untuk mewujudkannya. Kami menderita,” tutupnya.